Malam telah larut. Kapal terombang ambing di tengah lautan. Cuaca mendung. Si Embacang tergolek sendirian di dalam keranjang. Hatinya sedih, terkenang akan emak dan bapaknya.
Tiba tiba, si Embacang mendengar suara dua orang bercakap dari butiran.
" Hei, kudengar dikapal ini ada sebuah embacang yang sangat besar," kata seseorang.
" Memang, kemarin aku melihatnya dalam keranjang disudut ruangan itu," sahut kawannya." Embacang itu besar dan ranum."
" Ah, kau membuat air liurku menetes. Embacang itu pasti lezat. Bagaimana kalau kita makan saja?"
" jangan! Menurut Tuan Nahkoda, itu bukan embacang biasa. Ia bisa bersuara. Katanya, ia mengaku sebagai anak manusia."
" Ah, biar saja. Anak ayam dan kambing juga bersuara, tetapi mereka boleh dimakan. Apalagi cuma sebuah embacang, pasti ia bisa dimakan juga. Aku tak percaya pada nahkoda kita. Pasti ia bisa dimakan juga. Aku tak percaya pada nahkoda kita. Pasti ia terlalu banyak minum hingga mabuk. Lagi pula, mana ada sih manusia yang berubah... eh, beranak buah embacang?"
Suasana hening beberapa saat.
" Benar juga! Kalau begitu, mari kita makan saja embacang itu!"
Mendengar itu, si embacang ketakutan.
" Ya allah ya tuhanku, selamatkanlah aku!" doanya dalam hati.
Lalu, terdengar langkah langkah mendekat.
" Berikan pisaumu! Akan kukupas embacang ini!" kata orang itu.
" Tolong, pak! Jangan makan aku, dagingku tidak enak," mohon si embacang." Aku adalah anak manusia. Aku ingin pergi merantau!"
" Diamlah, embacang manis! Kami sedang lapar. Akan kami antar engkau merantau ke perut kami. Hahaha...!" balas orang itu sambil mengabil si Embacang dan tertawa.
" Tolooooong...! jerit si Embacang.
" Sudahlah! Sebentar lagi kau akan tiba disebuah Negeri didalam perutku!"
Si embacang bertambah takut. Salah satu orang itu menarik pisau dari balik bajunya. Ia siap mengupas kulit si embacang. Pisau belum menyentuh ke kulit si embacangnya,tiba tiba petir menggelegar, menyambar tiang kapal. Kedua orang itu sangat terkejut sehingga si Embacang terlepas dan telempar kembali ke keranjangnya.
Tak lama kemudian, badai datang. Kilat menyambar nyambar. Hujan deras pun turun. Angin bergemuruh kencang.
Tiba tiba, kapal oleng dan terbalik. Yang selamat hanyalah Nahkoda dan dua kawannya yang selamat.
Si Embacang menggelindingkan tubuhnya kedaratan. Pulau itu tampak sepi, sepertinya tidak ada penghuninya. Si embacang terus berdoa. Allah Yang Maha Pengasih mendengar doanya. Tidak ada yang mustahil bagi allah. Firmannya dalam surat Yasin ayat : 82 berbunyi, " Innamaa amruhuu idzaa araada syai-an anyaquula lahuu kun fayakuun."
Setelah empat puluh empat hari si Embacang berdoa, terjadilah keajaiban. Tiba tiba, cangkang si Embacang retak dan tebelah dua. Dari dalam buah itu, keluarlah seorang pemuda tampan berotot kekar. Itulah sih Embacang. Wujudnya telah berubah menjadi manusia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar