Selasa, 30 Desember 2014

Terdampar di Pulau

Malam telah larut. Kapal terombang ambing di tengah lautan. Cuaca mendung. Si Embacang tergolek sendirian di dalam keranjang. Hatinya sedih, terkenang akan emak dan bapaknya.

Tiba tiba, si Embacang mendengar suara dua orang bercakap dari butiran.
      " Hei, kudengar dikapal ini ada sebuah embacang yang sangat besar," kata seseorang.
      " Memang, kemarin aku melihatnya dalam keranjang disudut ruangan itu," sahut kawannya." Embacang itu besar dan ranum."
      " Ah, kau membuat air liurku menetes. Embacang itu pasti lezat. Bagaimana kalau kita makan saja?"
      " jangan! Menurut Tuan Nahkoda, itu bukan embacang biasa. Ia bisa bersuara. Katanya, ia mengaku sebagai anak manusia."
      " Ah, biar saja. Anak ayam dan kambing juga bersuara, tetapi mereka boleh dimakan. Apalagi cuma sebuah embacang, pasti ia bisa dimakan juga. Aku tak percaya pada nahkoda kita. Pasti ia bisa dimakan juga. Aku tak percaya pada nahkoda kita. Pasti ia terlalu banyak minum hingga mabuk. Lagi pula, mana ada sih manusia yang berubah... eh, beranak buah embacang?"

Suasana hening beberapa saat.
       " Benar juga! Kalau begitu, mari kita makan saja embacang itu!"

Mendengar itu, si embacang ketakutan.
        " Ya allah ya tuhanku, selamatkanlah aku!" doanya dalam hati.

Lalu, terdengar langkah langkah mendekat.
        " Berikan pisaumu! Akan kukupas embacang ini!" kata orang itu.
        " Tolong, pak! Jangan makan aku, dagingku tidak enak," mohon si embacang." Aku adalah anak manusia. Aku ingin pergi merantau!"
        " Diamlah, embacang manis! Kami sedang lapar. Akan kami antar engkau merantau ke perut kami. Hahaha...!" balas orang itu sambil mengabil si Embacang dan tertawa.
        " Tolooooong...! jerit si Embacang.
        "  Sudahlah! Sebentar lagi kau akan tiba disebuah Negeri didalam perutku!"

Si embacang bertambah takut. Salah satu orang itu menarik pisau dari balik bajunya. Ia siap mengupas kulit si embacang. Pisau belum menyentuh ke kulit si embacangnya,tiba tiba petir menggelegar, menyambar tiang kapal. Kedua orang itu sangat terkejut sehingga si Embacang terlepas dan telempar kembali ke keranjangnya.

Tak lama kemudian, badai datang. Kilat menyambar nyambar. Hujan deras pun turun. Angin bergemuruh kencang.

Tiba tiba, kapal oleng dan terbalik. Yang selamat hanyalah Nahkoda dan dua kawannya yang selamat.

Si Embacang menggelindingkan tubuhnya kedaratan. Pulau itu tampak sepi, sepertinya tidak ada penghuninya. Si embacang terus berdoa. Allah Yang Maha Pengasih mendengar doanya. Tidak ada yang mustahil bagi allah. Firmannya dalam surat Yasin ayat : 82 berbunyi, " Innamaa amruhuu idzaa araada syai-an anyaquula lahuu kun fayakuun."

Setelah empat puluh empat hari si Embacang berdoa, terjadilah keajaiban. Tiba tiba, cangkang si Embacang retak dan tebelah dua. Dari dalam buah itu, keluarlah seorang pemuda tampan berotot kekar. Itulah sih Embacang. Wujudnya telah berubah menjadi manusia.

Senin, 29 Desember 2014

Embacang Ingin Merantau


Suatu malam, Mawa Bunthok bermimpi didatangi seorang kakek tua. Ia berpesan agar Mawa Bonthok dan Teungku Kaoy merawat si Embacang dengan baik. Ia juga berpesan apabila si embacang meminta sesuatu, mereka harus menurutinnya. Kelak, si embacang akan menjadi anak yang berguna bagi mereka. Kakek tua it itu.u kemudian menghilang dalam kepulan asap.

Mawa Bunthok menceritakan mimpi itu kepada suaminya.
      " Yah, apa pun yang diberikan tuhan, kita harus menerimannya dengan rasa syukur. Lagi pula, semua itu salahku. Aku yang meminta anak seperti buah embacang. Nanti, ia akan menjadi anak yang berguna, " kata Teungku Kaoy. Hati mereka pun kembali tentram.

Teungku Kaoy dan istrinya membuat sebuah keranjang. Ditempatkannya si embacang di keranjang itu. Dirawatnya si embacang dengan baik. Setiap pagi dan sore, Mawa Bonthok memandikannya, seperti memandika bayi. Bahkan, sehabis mandi, tak lupa diolesinya kulit si embacang dengan bedak supaya baunya tetap harum.

Hari demi hari terus berlalu. Si embacang semakin bertambah besar, walau ia tidak punya mulut dan tidak pernah makan. tulah kebesaran Tuhan.

Pada suatu hari, terdengar suara dari dalam buah embacang itu.
         " Emak... Emak...!" terdengar memanggil seperti suara seorang anak laki laki.

Mawa Bunthok yang sedang memasak didapur sangat terkejut mendengarnya. Segera dihampirinya si Embacang.
          " Anakku, kau berbicara?" kata Mawa Bunthok heran bercampur senang.
          " Iya, Mak! SEmua ini adalah kehendakan Tuhan. Walaupun aku tidak punya mulut, mata, dan telinga, kini aku bisa berbicara, mendengar, dan melihat," jawab si embacang.

Mendengar itu, Mawa Bunthok sangat gembira. Ia bersyukur kepada tuhan. Suatu ketika Embacang meminta untuk dibawakan keluar untuk bermain diluar, dan Mawa Bunthok segera mengajaknya keluar.

Sejak itu Mawa Bunthok tidak merasa kesepian lagi. Kemana pun Mawa Bunthok pergi, ia selalu membawa si embacang.

Dua puluh tahun berlalu, tubuh embacang menjadi sebesar guci. Suatu ketika Embacang bertanya tanya tentang Negeri di Seberang Lautan dan ia ingin pergi kesana. Tetapi Embacang tidak di diperbolehkan pergi ke Negeri di Seberang Lautan, karena takut kehilangan, karena ia adalah anak satu satunya dari keluarga Teungku Kaoy dan Mawa Bunthok. Ia merengek rengek ingin pergi ke sana dan dipikir pikir oleh Emak dan Bapaknya akhrinya di perbolehkan. Akhirnya Embacang pun pergi ke Negeri di Seberang Lautan dengan menaiki kapal.

Do'a Seorang Ayah

Pada zaman dahulu, di sebuah desa yang terletak di pedalaman Aceh Pidie, hiduplah sepasang suami istri bernama Teungku Kaoy dan Mawa Bunthok. Mereka tinggal disebuah rumah kecil yang dihalamnnya tumbuh sebatang pohon Embacang. Pohon itu rindang dan subur serta berbuah lebat sepanjang tahun. Buahnya sanga manis. Daunnya harum semerbak. Lebih lebih di malam hari, saat daun daunnya menari nari dihembus angin. Harumnya menebar hingga ke desa desa disebelahnya. Pohon Embacang  itu menjadi kebanggan tersendiri bagi pemiliknya. Sebab, merekalah satu satunya pemilik pohon Embacang didesa itu.

Walaupun hidup miskin, Teungku Kaoy dan Mawa Bunthok bahagia. Mereka hidup dari bertani. Selain rajin bertani, Teungku Kaoy sangat rajin merawat pohon Embacangnya. Terkadang, ia mendapatkan uang dari hasil menjual buah embacang. Begitu bangganya ia pada pohon embacang itu, kemana pun pergi ia selalu menceritakan tentang pohon embacangnya yang berubah lebat dan manis itu. Bahkan, disetiap perkataannya ia selalu menyebut nyebut pohon embacangnya.

Namun, ada satu hal yang merisaukan Teungku Kaoy. Walaupun ia dan istrinya sudah cukup lama serumah tangga, tuhan belum juga menganugerahi mereka anak. padahal, mereka sangat mendambakannya.

Setiap malam hari, Teungku Kaoy melaksanakan salat Tahajud. Sambil menangis, ia berdoa.
       “ Ya allah, ya tuhanku! Engkau maha kuasa dan Maha mengetahui. Engkau tahu, betapa kami sangat menginginkan seorang anak. Karena itu berikanlah kami seorang anak yang sama seperti anak orang lain. Seperti buah embacang pun, jadilah” pinta Teungku Kaoy.

Rupanya, tuhan mendengarkan doa Teungku Kaoy dan istri Teungku Kaoy mengandung dan Teungku Kaoy pun gembira.

Hari demi hari berlalu, bulan terus berganti, kandungan Mawa Bunthok semakin bertambah besar. Setelah Sembilan bulan berlalu, Mawa Bunthok pun melahirkan. Namun, yang terjadi sungguh diluar dugaan. Dari rahim Mawa Bunthok yang keluar adalah sebiji embacang, bukan seorang anak manusia! Semua orang kaget dan terheran heran melihatnya.
      “ Selamat Teungku Kaoy! Istri anda melahirkan sebiji embacang!” ujar dukun beranak yang menolong persalinan Mawa Bunthok dengan bingung.
      “ Oh tuhan! Aku sudah punya cukup banyak buah embacang, mengapa engkau memberiku buah embacang lagi?” gumam Teungku Kaoy kaget. Seketika, ia jatuh pingsan dan Mawa Bunthok jatuh pisang jga. Teungku Kaoy dan Mawa Bunthok tetap mengagap biji embacang itu sebagai anaknya.