Senin, 29 Desember 2014

Do'a Seorang Ayah

Pada zaman dahulu, di sebuah desa yang terletak di pedalaman Aceh Pidie, hiduplah sepasang suami istri bernama Teungku Kaoy dan Mawa Bunthok. Mereka tinggal disebuah rumah kecil yang dihalamnnya tumbuh sebatang pohon Embacang. Pohon itu rindang dan subur serta berbuah lebat sepanjang tahun. Buahnya sanga manis. Daunnya harum semerbak. Lebih lebih di malam hari, saat daun daunnya menari nari dihembus angin. Harumnya menebar hingga ke desa desa disebelahnya. Pohon Embacang  itu menjadi kebanggan tersendiri bagi pemiliknya. Sebab, merekalah satu satunya pemilik pohon Embacang didesa itu.

Walaupun hidup miskin, Teungku Kaoy dan Mawa Bunthok bahagia. Mereka hidup dari bertani. Selain rajin bertani, Teungku Kaoy sangat rajin merawat pohon Embacangnya. Terkadang, ia mendapatkan uang dari hasil menjual buah embacang. Begitu bangganya ia pada pohon embacang itu, kemana pun pergi ia selalu menceritakan tentang pohon embacangnya yang berubah lebat dan manis itu. Bahkan, disetiap perkataannya ia selalu menyebut nyebut pohon embacangnya.

Namun, ada satu hal yang merisaukan Teungku Kaoy. Walaupun ia dan istrinya sudah cukup lama serumah tangga, tuhan belum juga menganugerahi mereka anak. padahal, mereka sangat mendambakannya.

Setiap malam hari, Teungku Kaoy melaksanakan salat Tahajud. Sambil menangis, ia berdoa.
       “ Ya allah, ya tuhanku! Engkau maha kuasa dan Maha mengetahui. Engkau tahu, betapa kami sangat menginginkan seorang anak. Karena itu berikanlah kami seorang anak yang sama seperti anak orang lain. Seperti buah embacang pun, jadilah” pinta Teungku Kaoy.

Rupanya, tuhan mendengarkan doa Teungku Kaoy dan istri Teungku Kaoy mengandung dan Teungku Kaoy pun gembira.

Hari demi hari berlalu, bulan terus berganti, kandungan Mawa Bunthok semakin bertambah besar. Setelah Sembilan bulan berlalu, Mawa Bunthok pun melahirkan. Namun, yang terjadi sungguh diluar dugaan. Dari rahim Mawa Bunthok yang keluar adalah sebiji embacang, bukan seorang anak manusia! Semua orang kaget dan terheran heran melihatnya.
      “ Selamat Teungku Kaoy! Istri anda melahirkan sebiji embacang!” ujar dukun beranak yang menolong persalinan Mawa Bunthok dengan bingung.
      “ Oh tuhan! Aku sudah punya cukup banyak buah embacang, mengapa engkau memberiku buah embacang lagi?” gumam Teungku Kaoy kaget. Seketika, ia jatuh pingsan dan Mawa Bunthok jatuh pisang jga. Teungku Kaoy dan Mawa Bunthok tetap mengagap biji embacang itu sebagai anaknya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar