Pada zaman dahulu, di sebuah desa yang
terletak di pedalaman Aceh Pidie, hiduplah sepasang suami istri bernama Teungku
Kaoy dan Mawa Bunthok. Mereka tinggal disebuah rumah kecil yang dihalamnnya
tumbuh sebatang pohon Embacang. Pohon itu rindang dan subur serta berbuah lebat
sepanjang tahun. Buahnya sanga manis. Daunnya harum semerbak. Lebih lebih di
malam hari, saat daun daunnya menari nari dihembus angin. Harumnya menebar
hingga ke desa desa disebelahnya. Pohon Embacang itu menjadi kebanggan
tersendiri bagi pemiliknya. Sebab, merekalah satu satunya pemilik pohon
Embacang didesa itu.
Walaupun hidup miskin, Teungku Kaoy dan Mawa
Bunthok bahagia. Mereka hidup dari bertani. Selain rajin bertani, Teungku Kaoy sangat
rajin merawat pohon Embacangnya. Terkadang, ia mendapatkan uang dari hasil
menjual buah embacang. Begitu bangganya ia pada pohon embacang itu, kemana pun
pergi ia selalu menceritakan tentang pohon embacangnya yang berubah lebat dan
manis itu. Bahkan, disetiap perkataannya ia selalu menyebut nyebut pohon
embacangnya.
Namun, ada satu hal yang merisaukan Teungku
Kaoy. Walaupun ia dan istrinya sudah cukup lama serumah tangga, tuhan belum
juga menganugerahi mereka anak. padahal, mereka sangat mendambakannya.
Setiap malam hari, Teungku Kaoy melaksanakan
salat Tahajud. Sambil menangis, ia berdoa.
“ Ya allah, ya tuhanku! Engkau maha kuasa dan Maha mengetahui. Engkau
tahu, betapa kami sangat menginginkan seorang anak. Karena itu berikanlah kami
seorang anak yang sama seperti anak orang lain. Seperti buah embacang pun,
jadilah” pinta Teungku Kaoy.
Rupanya, tuhan mendengarkan doa Teungku Kaoy
dan istri Teungku Kaoy mengandung dan Teungku Kaoy pun gembira.
Hari demi hari berlalu, bulan terus
berganti, kandungan Mawa Bunthok semakin bertambah besar. Setelah Sembilan bulan
berlalu, Mawa Bunthok pun melahirkan. Namun, yang terjadi sungguh diluar
dugaan. Dari rahim Mawa Bunthok yang keluar adalah sebiji embacang, bukan
seorang anak manusia! Semua orang kaget dan terheran heran melihatnya.
“
Selamat Teungku Kaoy! Istri anda melahirkan sebiji embacang!” ujar dukun
beranak yang menolong persalinan Mawa Bunthok dengan bingung.
“
Oh tuhan! Aku sudah punya cukup banyak buah embacang, mengapa engkau memberiku
buah embacang lagi?” gumam Teungku Kaoy kaget. Seketika, ia jatuh pingsan dan
Mawa Bunthok jatuh pisang jga. Teungku Kaoy dan Mawa Bunthok tetap mengagap
biji embacang itu sebagai anaknya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar