Mawa Bunthok menceritakan mimpi itu kepada suaminya.
" Yah, apa pun yang diberikan tuhan, kita harus menerimannya dengan rasa syukur. Lagi pula, semua itu salahku. Aku yang meminta anak seperti buah embacang. Nanti, ia akan menjadi anak yang berguna, " kata Teungku Kaoy. Hati mereka pun kembali tentram.
Teungku Kaoy dan istrinya membuat sebuah keranjang. Ditempatkannya si embacang di keranjang itu. Dirawatnya si embacang dengan baik. Setiap pagi dan sore, Mawa Bonthok memandikannya, seperti memandika bayi. Bahkan, sehabis mandi, tak lupa diolesinya kulit si embacang dengan bedak supaya baunya tetap harum.
Hari demi hari terus berlalu. Si embacang semakin bertambah besar, walau ia tidak punya mulut dan tidak pernah makan. tulah kebesaran Tuhan.
Pada suatu hari, terdengar suara dari dalam buah embacang itu.
" Emak... Emak...!" terdengar memanggil seperti suara seorang anak laki laki.
Mawa Bunthok yang sedang memasak didapur sangat terkejut mendengarnya. Segera dihampirinya si Embacang.
" Anakku, kau berbicara?" kata Mawa Bunthok heran bercampur senang.
" Iya, Mak! SEmua ini adalah kehendakan Tuhan. Walaupun aku tidak punya mulut, mata, dan telinga, kini aku bisa berbicara, mendengar, dan melihat," jawab si embacang.
Mendengar itu, Mawa Bunthok sangat gembira. Ia bersyukur kepada tuhan. Suatu ketika Embacang meminta untuk dibawakan keluar untuk bermain diluar, dan Mawa Bunthok segera mengajaknya keluar.
Sejak itu Mawa Bunthok tidak merasa kesepian lagi. Kemana pun Mawa Bunthok pergi, ia selalu membawa si embacang.
Dua puluh tahun berlalu, tubuh embacang menjadi sebesar guci. Suatu ketika Embacang bertanya tanya tentang Negeri di Seberang Lautan dan ia ingin pergi kesana. Tetapi Embacang tidak di diperbolehkan pergi ke Negeri di Seberang Lautan, karena takut kehilangan, karena ia adalah anak satu satunya dari keluarga Teungku Kaoy dan Mawa Bunthok. Ia merengek rengek ingin pergi ke sana dan dipikir pikir oleh Emak dan Bapaknya akhrinya di perbolehkan. Akhirnya Embacang pun pergi ke Negeri di Seberang Lautan dengan menaiki kapal.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar